Senin, 15 Oktober 2012

10 OKt 2012

Temanku sudah memaafkanku tapi aku belum sepenuhnya memaafkan diriku. rasa bersalah ini sangat menyiksaku. palagi jika ku kait-kaitkan dengan apa yang telah terjadi padaku di masa lampau. Bau kepedihan karena dilupakan, ditinggalkan dan dikecewakan itu begitu lekat di semua inderaku. lagi, aku menangis. Aku tahu Tuhan pengampun, aku tahu temanku sudah memaafkanku tetapi kenapa aku begini? kenpa sosok diriku selalu akrab dengan kesan sombong, melecehkan, merendahkan hanya karena status intelektualku yang katanya lebih tinggi dari temen-temanku. Sejujurnya aku benci "KEPINTARAN" yang mereka sebut-sebut ini, bagiku ia lebih banyak menyusahkanku daripada menolongku. "kepintaran" yang membuatku iddekati dan ditemani banyak teman namun hanya untuk dimanfaatkan sehingga aku sulit untuk percaya terhadap sebuah ketulusan pertemanan. "kepintaran" yang membuat aku tampak seolah-olah di atas, menonjol dari teman-teman sehingga aku dianggap dari kelas yang berbeda, golongan atas jika di kelas, golongan aneh di luar kelas, golongan pupuler di dalam kelas, golongan cupu di luar kelas, superior yang tidak mengasyikkan dan kaku serta boring itu labelQ akibat "kepintaran" ini. aku benci!!!! aq tak suka, aku mau yang biasa-biasa saja, sederhana dan tak ada perbedaan atau kelas-kelas, sama rata saja. dan kini tanpa bermaksud menyakiti lagi-lagi status "kepintaran" itu mengikuti sehingga di mata sahabatQ aku seolah-olah ingin menjatuhkan dan dianggap sebuah kesombongan. dan aku sekali lagi menyakiti perasaan sahabatku tanpa kusadari. di saat aku tak henti-hentinya menangis dan terus menyalahkan diriku sendiri, sebuah renungan pagi itu berbicara padaku; SH 10 Oktober 2012 berbicara tentang Pengampunan. Yesaya 14: 24-27
ayat 24: apa yg terjadi seperti yang Tuhan maksudkan, Apa yang terlaksana seperti yang Tuhan rencanakan. Allah lah yang merancang diriku, maka dia juga yang akan melaksanakan segala hal indah lewat diriku!!!
Yeremia 29:11 Allah tahu rancangan-rancanganNya tentang diriku dan itu adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan, rancangan yang mendatangkan hari depan yang penuh harapan bukan hari-hari suram. HARAPAN???? aku teringat lagi renungan pagiku sehari sebelum ini yang berbicara padaku untuk terus berharap di dalam Tuhan. akhirnya aku berhenti pada kesimpulan aku harus berhenti menyalahkan dan menghakimi diriku sendiri. aku sudah membereskan kesalahanku dengan Allah dan sahabatku pun sudah memaafkanku, yang harus ku lakukan adalah berubah lebih baik dan hati-hati lagi dalam berbicara. soal "kepintaran" yang menyusahkan aku belum tahu apa yang harus ku lakukan, aku pernah berpura-pura bodoh dan itu justru lebih aneh pun menyusahkan juga. aku harus belajar menyukai "kepintararan" dan harus menyerahkan cara penggunaannya sama Tuhan itu yang Q rasa perlu ku lakukan. biar ini dipakai untuk kemuliaanNya dan tidak menyakiti siapapun lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar