Senin, 07 Januari 2013


Ini benar-benar menyiksaQ. Tiada kabar, hanya kesunyian. Aq tak ingin bersedih apalagi menangis tapi semua ini menekan pikiranku. Sangat menyakitkan tapi tak dapat berbuat apa-apa. Tak ada cukup alasan. Tuhan, bukan kah memang aku meminta kejelasan, tapi bukankah aku juga meminta diberi kemampuan dan kekuatan untuk melaluinya Bapa. Kenapa sesakit ini? Aku berharap natal dan tahun baru yang berbahagia tapi kepedihan begitu nyata. HarapanQ seakan pupus dan tiada bermakna. Kenapa ini? Kenapa beri “rasa ini” jika kemudian menjadi sangat menyakitiQ. Apakah aq terlalu berlebihan, apakah aku kurang peka menangkap maksudMu Bapa. Aq memang slalu bertanya dan meminta izin, tapi apakah aku salah menangkap pesanMU. Berikan aku kepekaan Tuhan agar aku berespon tepat seperti mau Mu, berikan petunjuk, berikan kejelasan, berikan penghiburan. Betapa akhir2 ini aku merasa sangat ditinggalkan.

Senin, 19 November 2012

Berat BebanQ


Ketika semua nya bertambah berat
Bahkan bermimpi pun rasanya beban itu tetap mengikat
Kekhawatiran memuncak
Katakutan mencapai klimaks
Aku tertegun dan enggan bangun
Tak ada siapapun tak seorangpun
Datang menguatkan atau menghiburkan
Janji Tuhan mengingatkan
“Jangan lah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tapi nyatakanlah keinginanmu dalam segala hal kepada Tuhan lewat doa dan permohonan dengan UCAPAN SYUKUR
Still… bersyukur vey!!!
Ingatlah tiap hal meski kecil sekalipun yang kau terima hari ini sbg anugerah dan syukurilah
Nafas hidup, mata yg sehat, fisik yg utuh, kepala yang msh bisa berpikir walau sedikit sakit, kaki yang kuat tuk berjalan, hati yang masih berbelas kasih, airmata yang masih cukup membasahi bola mata, rambut yang utuh, orangtua yang sehat, teman2 yang kau kenal, makan dan minum hari ini, sinar mentari, udara yang Q hirup, pohon mangga depan kost, bunga rumput di atas batu, foto2 valen, foto2 meymey, foto2 zhufie, masa2 bersama merry, masa2 bersama nanang, masa2 bersama boni & nanda

Jenuh Q


Aku mulai jenuh. Entah kenapa bagiku kata-katanya begitu menyakitkan. Membuat marah dan bosan. Yang kulakukan selalu salah, selalu negatif, tak ada pujian hanya celaan. Aku.....aku ingin dihargai sebagaimana aku ada. Aku sadar, aku tak sempurna malah jauh dari sempurna, tetapi masakan tak ada satu pun nilai positifku di hadapannya. Apa karena ia terlampau tinggi??? Ah...tidak! ia pun punya banyak kelemahan, tetapi ia seringkali tak mau mengakuinya. Sosok yang sombong dan egois!
Bagaimana ini Tuhan? Kau tahu kebimbangan menderu hebat di dalam batinku. Aku terperangkap dalam keinginan yang samar-samar. Aku sendiri tak tahu memutuskan yang mana yang akan ku tempuh. Tiap sisi terasa begitu menyakitkan dan menyesakkan. Bagaimana aku tahu yang mana keinginanMu? Apa aku terlalu terbawa pikiran dan perasaan. Oh Tuhan semuanya semakin buruk, sahabatku pun kini menjauhkan diri dariku. Aku kehilangan banyak akibat perubahan.

Kamis, 15 November 2012

Why

kenapa semua pergi. satu per satu menjauh dan menghilang. kenapa semua tak ada saat duka teramat dalam dan mereka ku perlukan??? aku dapati jawabnya kini. Allah rupanya tak ingin aQ semakin terpaut dan begitu mengandalkan apapun atau siapapun melebihi diriNYA. AQ belajar untuk ikhlas dan rela melepas. belajar untuk berdisiplin terhadap hati untuk tidak terpaut dan begitu mengandalkan "seseorang". Tuhan, itu sulit dan sakit. Bagaimana bisa? Tawar menawar dan pembenaran2 pribadi mengisi alam pikirQ. Sampai akhirnya kata2 "Cukuplah kasihKu saja" terngiang ngiang di otakQ. Tuhan, bantu aQ lewati ini. aQ merasa tak kuasa :(

Me & God


Kasih itu tiada pamrih, tak pernah menuntut balas, itu yang Kau ajarkan pada ku Bapa. Tetapi kenapa begitu sulit bagiku kini untuk mengasihi orang yang dekat denganku, lebih mudah bagiku mengasihi orang yang tak mengenali aku sedikitpun. Aku begitu takut berharap Tuhan karena sadar atau tak sadar di dalam diriku ada keinginan untuk dikasihi dan diperlakukan penuh perhatian seperti aku mengasihi dan memperhatikan mereka. Apakah kasihku tak murni Tuhan? Aku begitu mengkhawatirkan hal itu sehingga aku memutuskan untuk menjauhkan diri dan menutup diri meskipun hatiku tetap mengasihi mereka & memperhatikan mereka dari jauh. Tuhan, ini suatu yang cukup sulit bagiku, karena sekuat apapun aku bertahan, hatiku rapuh Bapa, tak sepenuhnya aku mampu mempertahankan rasa “baik-baik saja” di dalam diriku saat terus mengasihi tanpa di kasihi, memperhatikan tanpa pernah diperhatikan. Satu-satunya yang memberikanku kekuatan adalah bila ku memandang salibMu, Kau lebih dulu Tuhan lalui ini semua dan hanya bersamaMu Yesus aku mampu lalui ini semua. Setiap saat aku meyakinkan dan menguatkan diriku dengan janji-janjiMu. FirmanMu lah yang menghiburku, menghangatkan hatiku saat hati ini begitu dingin, mencairkan kebekuan-kebekuan di pikiranku, memberi damai kepadaku lagi saat sekelilingku terasa sangat mengkhawatirkan. Aku berserah padaMu Bapa, itu saja andalanku. Meski dunia tak menjanjikan bahagia seperti yang aku inginkan, meski dunia dan isinya tak menyediakan kasih dan kehangatan seperti yang ku inginkan, tapi aku punya Engkau, Allah ku yang hidup yang akan terus, selalu dan selamanya memberikan semua hal itu, apa yang tak bisa dunia berikan kepadaku, Kau bisa. Karena Kau Allahku yang mahakuasa. Hanya tetaplah dekat denganku Yesus. Aku domba yang seringakali begitu takut untuk berjalan karena pandanganku tentang apa yang didepan dan masa depanku begitu kabur. Aq domba yang seringkali masih belum terlalu peka mengenali suaraMu sehingga seringkali aku tak mengikutiMu tapi ikut “seorang upahan” dan bahkan pencuri. Aq yang begitu lemah menghadapi dunia luar dengan begitu banyak singa-singa mengaum. Aq tak mampu Tuhan, semua tampak tak ada jalan keluar. Aku tak punya pilihan, bahkan diam di tempat pun menjadi masalah. Aku tak tahu bagaimana semua akan selesai tapi aku percaya padaMu Gembalaku yang Baik, Engkau akan menolongku dengan cara yang tak akan ku pahami karena Kau begitu ajaib dan tak terselami. Yang ku percaya dan yakini, apapun itu aku akan selamat karena diriMu. Yang perlu ku lakukan hanya menutup mata, bercerita kepadaMu di dalam doa. Jesus, help me. Here in my heart i feel very sick, lonely and tired.

Senin, 15 Oktober 2012

10 OKt 2012

Temanku sudah memaafkanku tapi aku belum sepenuhnya memaafkan diriku. rasa bersalah ini sangat menyiksaku. palagi jika ku kait-kaitkan dengan apa yang telah terjadi padaku di masa lampau. Bau kepedihan karena dilupakan, ditinggalkan dan dikecewakan itu begitu lekat di semua inderaku. lagi, aku menangis. Aku tahu Tuhan pengampun, aku tahu temanku sudah memaafkanku tetapi kenapa aku begini? kenpa sosok diriku selalu akrab dengan kesan sombong, melecehkan, merendahkan hanya karena status intelektualku yang katanya lebih tinggi dari temen-temanku. Sejujurnya aku benci "KEPINTARAN" yang mereka sebut-sebut ini, bagiku ia lebih banyak menyusahkanku daripada menolongku. "kepintaran" yang membuatku iddekati dan ditemani banyak teman namun hanya untuk dimanfaatkan sehingga aku sulit untuk percaya terhadap sebuah ketulusan pertemanan. "kepintaran" yang membuat aku tampak seolah-olah di atas, menonjol dari teman-teman sehingga aku dianggap dari kelas yang berbeda, golongan atas jika di kelas, golongan aneh di luar kelas, golongan pupuler di dalam kelas, golongan cupu di luar kelas, superior yang tidak mengasyikkan dan kaku serta boring itu labelQ akibat "kepintaran" ini. aku benci!!!! aq tak suka, aku mau yang biasa-biasa saja, sederhana dan tak ada perbedaan atau kelas-kelas, sama rata saja. dan kini tanpa bermaksud menyakiti lagi-lagi status "kepintaran" itu mengikuti sehingga di mata sahabatQ aku seolah-olah ingin menjatuhkan dan dianggap sebuah kesombongan. dan aku sekali lagi menyakiti perasaan sahabatku tanpa kusadari. di saat aku tak henti-hentinya menangis dan terus menyalahkan diriku sendiri, sebuah renungan pagi itu berbicara padaku; SH 10 Oktober 2012 berbicara tentang Pengampunan. Yesaya 14: 24-27
ayat 24: apa yg terjadi seperti yang Tuhan maksudkan, Apa yang terlaksana seperti yang Tuhan rencanakan. Allah lah yang merancang diriku, maka dia juga yang akan melaksanakan segala hal indah lewat diriku!!!
Yeremia 29:11 Allah tahu rancangan-rancanganNya tentang diriku dan itu adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan, rancangan yang mendatangkan hari depan yang penuh harapan bukan hari-hari suram. HARAPAN???? aku teringat lagi renungan pagiku sehari sebelum ini yang berbicara padaku untuk terus berharap di dalam Tuhan. akhirnya aku berhenti pada kesimpulan aku harus berhenti menyalahkan dan menghakimi diriku sendiri. aku sudah membereskan kesalahanku dengan Allah dan sahabatku pun sudah memaafkanku, yang harus ku lakukan adalah berubah lebih baik dan hati-hati lagi dalam berbicara. soal "kepintaran" yang menyusahkan aku belum tahu apa yang harus ku lakukan, aku pernah berpura-pura bodoh dan itu justru lebih aneh pun menyusahkan juga. aku harus belajar menyukai "kepintararan" dan harus menyerahkan cara penggunaannya sama Tuhan itu yang Q rasa perlu ku lakukan. biar ini dipakai untuk kemuliaanNya dan tidak menyakiti siapapun lagi.
aQ membuka mataku dengan enggan pagi ini. Pukul 08.15. Bukan karena aku malas tapi karena aku memang baru tertidur sejak pukul 03.15 dini hari. selain kantuk yang sangat mambuat malas dan enggan, kesulitan lain terletak pada mataku yang bengkak post menangis semalaman. aku berbuat kesalahan lagi tanpa ku sadari dan ku kehendaki. seorang sahabat karibQ bilang itu terjadi karena aku orang yang cepat untuk mendengar dan cepat untuk berkata-kata pula.
Perlahan aku bangun dan ku ambil Alkitab mungilku dan buku renungan pagiku. agak malas sebenarnya aku membuka buku ampuh ini dengan kondisi mata super bengkak begini tapi entahlah jauh di lubuk hatiQ ada rasa rindu untuk mencari sesuatu di dalamnya, terlebih penghiburan.
Yesaya 14:1-23 "Pengharapan yang Tidak Berubah" begitu judul renungan pagi ini. Og, God tersentak aku dalam hati. apa ini? Kenapa tepat sekali? Ketika aku lelah, mengeluh dan hampir berputus asa dan enggan lagi  untuk berharap, kata-kata itu yang muncul.
isi dari renungan itu aku belajar dari Bangsa Israel saat di pembuangan (Babel). dapat ku bayangkan betapa menderitanya mereka dan sangat beralasan bila mereka berputus asa. tetapi Allah berjanji akan membawa mereka keluar karena ALLAH MENYAYANGI mereka. bagaimana dengan diriku? aku juga merasakan sakit, penindasan yang terjadi bagiku bukan bukan bersifat fisik tapi lebih terhadap mental dan jiwa. Batinku tertekan, bagaiman harus bertahan, aku kesepian sementara sahabat-sahabat satu persatu menjauh dan meninggalkanku. "pengharapan tidak berubah". ini sungghuh menegur sekaligus menguatkanku. tertegur karena menyadari ketidakpercayaan dan keragu-raguanku akan janji Allah, menguatkan karena aQ semakin sadar bahwa harapan di dalam Tuhan itu akan selalu ada dan takkan berubah krn Allah pun tak berubah, tetap SETIA dan penuh KASIH selama-lamanya. Allah sendiri yang akan menolongku melewati semua masa-masa sulit ini, IA sempurna dan berkuasa. yang harus ku lakukan hanya terus bersandar padaNya, berharap terus pd Dia semata. takkan selama-lamanya airmata, ada masanya IA akan berikan bahagia, itu kini yang ku percaya.